Dunia Asa - Dunia Wisata dan Kuliner

Dunia informasi wisata, Kuliner, Paket Tour Wisata, Resep, tips wisata, Backpacker, Wonderful Indonesia, Liburan Bersama Keluarga

Kenapa Aceh Dikenal dengan Sebutan Serambi Mekah? Ini Sebabnya

Selamat pagi sobat asa, apa kabar semuanya? sudah pada traveling kemana aja nih? Boleh dong berbagi kisah dan cerita keasyikan traveling dengan asa disini.

Bisa lewat kolom komentar atau bisa juga berkirim artikel dengan kami. Kita tau, Indonesia memiliki banyak sekali keragaman budaya, keragaman alam serta kuliner yang sangat luar biasa.

Setelah berkeliling ke Sambas, Kalimantan Baratmenikmati keindahan alam serta budaya suku melayu Pulau Borneo serta ragam macam kulinernya yang menggugah selera.

Kali ini saya akan mengajak sobat asa untuk berkeliling ke ujung barat Indonesia, Propinsi Nangro Aceh Darussalam.

Kita sudah menikmati dan bersama-sama mencoba membuat kuliner dari ujung timur Jawa Timur seperti Sayur Kalakan, Pacitan Jawa Timur, serta Ayam Lodho di Tulungagung, sekarang kita coba menikmati ragam budaya dan kuliner serta keindahan alam dari ujung barat Indonesia, Nangro Aceh Darussalam (NAD).

Propinsi Nangro Aceh Darussalam memiliki berpuluh-puluh, bahkan ratusan destinasi wisata dan budayanya, selain itu berbagai macam ragam kuliner pun turut melengkapi.

Nangro Aceh Darussalam (NAD) terbagi ke dalam 23 Kota dan Kabupaten, Propinsi Nangro Aceh Darussalam merefleksikan kehidupan masyarakat Sumatera yang beragam.


Kota Banda Aceh

Petualangan saya kali ini, saya ingin mengajak sobat asa untuk berkeliling di Propinsi Khusus dan Istimewa ini.

Saya mulai dari Kota Banda Aceh, kota yang terus berkembang dari waktu ke waktu, yang juga merupakan ibu kota Propinsi Nangro Aceh Darussalam.

Kota Banda Aceh berbatasan langsung dengan selat malaka dan samudera hindia, karena itu Kota Banda Aceh menawarkan keindahan alam yang luar biasa.

Gempa bumi dan tsunami dahsyat yang mengguncang Indonesia, dan juga dunia pada tahun 2004 silam, tidak membuat Banda Aceh pudar pesona keindahan alamnya. Kota ini terus berbenah dan terus menunjukkan eksistensinya dalam 13 tahun terakhir.

Dahulu Banda Aceh merupakan salah satu dari lima kerajaan Islam terbesar didunia.

Aceh dianggap sebagai tempat masuk dan dimulainya penyebaran Islam di Indonesia, dan ikut memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Karena itu, Aceh memiliki berbagai macam tradisi unik dalam menyambut hari besar Islam.


Tradisi Kenduri Maulod (Kenduri Maulid)

Perayaan Maulid Nabi di Aceh disebut dengan Kenduri Maulod, merupakan perayaan memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw.



Di Aceh dikenal dengan memperingati kelahiran Pa'ule Alam. Dalam kalender Aceh ada 3 bulan yang berturut disebut sebagai bulan Maulod, yakni:

  1. Maulod Awal yang dimulai dari 12 Rabbiul Awal
  2. Maulod Tengoh yang dimulai dari 1 Rabbiul Akhir
  3. Maulod Akhir yang dilaksanakan sepanjang bulan Jumadil Awal

Peringatan Maulid Nabi di Aceh dilakukang dengan penuh suka cita, 1 ekor sapi dipotong sebagai hidangan bagi seluruh warga yang hadir, karena perayaan maulid menjadi salah satu agenda besar yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

Bagi masyarakat Aceh, Tradisi Kenduri Maulod sudah melebur dan merasuk kedalam dalam jiwa hampir seluruh masyarakat Aceh.

Tradisi tiap tempat atau desa yang merayakan Maulid Nabi sebenarnya tidak sama, dimana terdapat sedikit perbedaan tergantung dari kebiasaan warga desa setempat.

Dalam peringatan Maulid Nabi di Aceh tidak ada paksaan, semua warga secara sukarela terlibat dan ambil bagian dalam kegiatan ini. Maulid Nabi di Aceh merupakan perayaan Maulid Nabi terbesar di Indonesia.


Kenduri Rumah dan Kenduri Menasah

Para wanita mempersiapkan hidangan dan memasak di dalam rumah didalam menyambut dan memeriahkan perayaan Maulid Nabi ini, yang juga sering disebut dengan Kenduri Rumah.

Berbagai macam kuliner yang nantinya akan dihidangkan dan disajikan dirumah dan ada juga yang diantarkan ke Menasah atau tempat diadakan perayaan Maulid Nabi, yakni yang biasanya merupakan pekarangan Masjid atau Mushola.

Sedangkan teruntuk kaum laki-lakinya, mereka mempersiapkan Kenduri Menasah, yang nantinya akan dimasak menjadi kuah belangong, dan dihidangkan bersama-sama dan disantap secara bersama-sama juga.

Penyembelihan atau pemotongan sapi atau kerbau bisa mencapai puluhan ekor, tergantung tingkatannya masing-masing.

Misalnya, jika dihitung dari tingkat kampung, paling hanya mencapai 1 sampai 2 ekor saja.

Semua dilakukan oleh masyarakat aceh hanya untuk dalam mempersiapkan perayaan Maulid Nabi yang hanya dilakukan satu tahun sekali ini,


Kuah Belangong atau Kuah Belanga

Pada umumnya, ada istilah Kuah Belangongatau kuah belanga di Propinsi Aceh ini,yaitu daging yang dimasak di Menasah atau pekarangan Masjid dalam suatu belanga besar.

Perayaan Maulid Nabi ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali saja, dan karenanya hampir semua warga berkumpul dan menyempatkan diri mereka untuk sekedar memasak bersama, yang juga merupakan sudah menjadi tradisi masyarakat aceh dalam menyambung tali silaturahmi.

Satu belango mampu menampung sekitar 50 kilogram sapi. Rempah-rempah khas Aceh menjadi ciri dari masakan ini dan Kuah Belangong merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dalam perayaan Maulid Nabi di Aceh.

Masakan Kuah Belangong tadi, sebagiannya disisihkan untuk masyarakat kampung sekitar dan masyarakat atau penduduk kampung lainnya yang mereka undang.

Sedangkan sebagian lainnya lagi, mereka bagikan kepada atau untuk mereka sendiri, dengan kata lain untuk kampung mereka sendiri.

Menjelang sore lantunan shalawat nabi menambah khidmat yang dirasa, kemudian para undangan dipersilahkan membuka hidangan atau Idang dan menyantapnya secara berkelompok.

Rasa kebersamaan, kegembiraan, suka cita yang hadir terasa dalam perayaan Maulid Nabi ini, begitu terasa, tradisi ini telah menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Aceh, karena tadisi inilah yang semakin menyatu dalam tatanan adat budaya masyarakat Aceh.