Pulau Maitara dan Tidore - Ternate

Pulau Maitara dan Tidore - Ternate

Baca juga:

Ternate sebuah pulau yang diberkati dengan harta karun nan harum, berupa rempah-rempah nya ini menjadi sebuah tempat yang memegang peranan paling penting di nusantara.

Belanda, Portugis, China, Spanyol, dan Inggris, semuanya pernah datang ke Ternate dengan tujuan yakni hasrat untuk menguasai Pulau yang kaya akan Rempah-rempah nya ini.

Pulau Maitara dan Tidore - Ternate



Pemandangan yang indah ini paling terkenal di seluruh negeri ini. Namun walaupun begitu, tak banyak orang Indonesia yang tahu di mana letaknya, walaupun sebenarnya gambar-gambar dari ternate ini telah menghiasi dompet mereka selama ini.
Pulau Maitara dan Tidore - Ternate

Duduk diatas bukit Pulau Ternate, memandangi dua gunung yang ada dihadapan saya, sungguh merupakan suatu kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan.

Tanpa sadar saya menyadari, kedua gunung yang ada dihadapan saya ini, tampak begitu familiar, tidak asing bagi saya. Saya mencoba untuk mengingat-ingat, dimanakah saya pernah melihat gunung kembar ini? Saya serasa sudah pernah berada ditempat ini, atau setidaknya pernah melihatnya disuatu tempat.

Hingga akhirnya, pemandu kami menunjukkan selembar uang seribu rupiah, sebuah gambar di belakang uang tersebut, yang bertuliskan ‘Pulau Maitara dan Tidore’, melukiskan pemandangan yang ada di depan saya saat ini.

Sangatlah mengagumkan bagaimana pulau-pulau mungil ini yang mana luas Pulau Maitara hanyalah sekitar 3 km saja, pernah menjadi simbol ekonomi salah satu negara terbesar di dunia.

Dan saya juga masih belum dapat memahami, bagaimana bisa sebuah kota kecil yang sepi di kaki bukit ini dulunya pernah menjadi pusat kota administratif Hindia Belanda sebelum pada akhirnya dipindahkan ke Batavia.

Hingga akhirnya saya menyadari, Ternate mungkin memang sudah ditakdirkan untuk menjadi suatu tempat yang besar sejak dulu kala. Sebelum penjajah-penjajah Eropa menemukan rute pelayaran kebelahan timur dunia, bangsa China sudah lebih dulu berdagang rempah-rempah disini.

Saat Sir Francis Drake menepi di sini untuk mengunjungi Sultan Ternate, dia terkagum-kagum dengan banyaknya selir yang dimiliki oleh salah satu raja terkuat di Asia Tenggara pada masa itu.

Namun sayang, kala itu, Sir Francis Drake tidak bisa mengangkut rempah-rempah yang ada di Ternate ini untuk dibawa ke Eropa, karena kapalnya dipenuhi muatan emas Spanyol.

Diatas lempeng tektonik yang melintasi kepulauan Maluku ini, berjejer gugusan kepulauan yang muncul berkelompok di atas lempeng adalah satu-satunya tempat yang diketahui di dunia ini, di mana tanaman pala dapat tumbuh.

Kala itu, wabah hitam atau yang dikenal dengan black plague sedang melanda daratan Eropa, dan saat itu, buah pala dikenal sebagai obat yang dapat menyembuhkannya.

Hingga saat ini lereng Gunung Gamalama masih disesaki aroma wangi cengkeh, pala, kayumanis dan bunga pala. Kami hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk berkeliling di desa-desa nelayan serta mencari cengkeh yang tersembunyi di seluruh pelosok pulau.

Puncak Gunung Gamalama yang tertutup abu terlihat garang ibarat seorang raksasa yang sedang menatap mangsanya, menjumpai kami di setiap belokan.

Pulau Maitara dan Tidore - Ternate

Bukti nyata kekuatannya terlihat di lembah Batu Angus, tempat dimana terdapat pahatan batu yang terpilin oleh kekuatan dasyat yang berasal dari dalam pusat bumi, sebuah karya seni alam dari kekuatan vulkanik yang sangat mengagumkan.

Seorang naturalis yang berasal dari Wales, Alfred Russel Wallace mencetuskan ide nya disini mengenai teori evolusi nya pada tahun 1858, yang kemudian mengirimkan esai nya tersebut kepada temannya Charles Darwin, yang pada saat itu sedang akan mencetuskan teori yang serupa dari hasil penelitiannya di kepulauan nan-jauh disana di Galapagos, sehingga membuat Maluku menjadi gambaran sebagai pusat keragaman mahluk hidup.

Garis Wallace membujur di sepanjang Maluku, dan kepulauan ini terkenal sebagai garis pemisah antara spesies Asia dan Australasia.

Sekumpulan burung kakatua sering terlihat di sekitar Danau Tolire, yang tidak diketahui di sini adalah tanda yang paling menyolok dari adanya Garis Wallace.

Kami berdiri di sisi curam sebuah danau yang cukup misterius, yang dipenuhi dengan buaya-buaya raksasa, sedangkan di atas kami penuh dengan kabut sulfur yang disemburkan oleh Gunung Gamalama.

Masyarakat sekitar pulau percaya bahwa Sultan Ternate memiliki kekuatan untuk menghentikan semburan amukan gunung berapi. Meskipun saat ini sultan yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja sebagai wakil dari Provinsi Ternate di Jakarta, sultan selalu rutin kembali ke Ternate, juga pada tahun 1983 dimana sultan cepat-cepat kembali untuk menenangkan gejolak aktivitas gunung berapi raksasa itu.

Sang Sultan pun menyelenggarakan upacara pelayaran tradisional untuk berkeliling pulau sambil mengenakan mahkota kesultanan yang sakral, yang konon katanya mahkota tersebut dihiasi oleh rambut manusia yang tidak pernah berhenti tumbuh. Anehnya, aktivitas gunung berapi yang saat itu tengah bergejolak mereda seketika bahkan sebelum sultan kembali ke istananya.

Setelah menyelesaikan pelayaran berkeliling pulau, kemudian kami lanjutkan untuk berkeliling di sekitar gunung berapi mencari pohon Afo, yang dikenal sebagai penghuni tertua di pulau ini.

Pohon cengkeh purba ini konon katanya telah berusia lebih dari 400 tahun dan diberi nama seperti nama pemberontak lokal yang menanamnya untuk menentang monopoli perdagangan Belanda pada masa penjajahan kolonial Belanda dulu.

Berdasarkan petunjuk yang kami pegang, berupa buku panduan wisata di Ternate, mengatakan bahwa pohon Afo tersebut sudah lama mati dan tidak bisa tumbuh kembali.

Namun ketika kami datang setelah menjelajahi bukit rimbun nan harum ini, rasa takjub kami tidak ada hentinya ketika melihat pohon tersebut menjulang tinggi kelangit dengan gagahnya, berada di tengah-tengah pohon lainnya.

Empat abad lamanya pohon ini telah berdiri sebagai bukti bahwa Ternate sangat berjasa dalam membentuk Indonesia hingga seperti sekarang ini.

Saat ketika kami ingin kembali berjalan turun dan melanjutkan perjalanan kami ke lembah, seketika pemandu kami berucap:

“Lihat,” katanya, “cabang itu telah tumbuh lagi.”

Iya!! dia benar. Cabang yang tadinya kami pikir berasal dari pohon lain ternyata adalah cabang yang tumbuh dari batang pohon Afo tersebut. Pohon yang berusia empat ratus tahun yang telah dianggap mati itu tak hanya dapat kembali tumbuh di tanah pegunungan yang subur, namun juga mampu memberikan setangkai dahan penuh bunga cengkeh.

Pulau Maitara dan Tidore - Ternate

Di Pantai Sulamadaha yang indah dan jauh dari keramaian ini, kami sangat beruntung karena dapat melihat festival unik rakyat Ternate yang dinamakan Bambu Gila. Sekelompok pemuda bergulat di atas pasir hitam, beradu melawan kekuatan sebilah bambu yang berguncang dan meliuk-liuk seperti layaknya ekor ular kobra yang tebal. Konon, bambu itu dirasuki roh setelah sang dukun membakar kemenyan dan membaca mantra.

Ternate telah melalui berbagai rintangan dan tantangan, layaknya seperti pohon tua yang dihormati itu. Mungkin tidak lama lagi, masa depan yang cemerlang akan tiba menyapa kepulauan ini.
Advertisement

Loading...
Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments