Dunia Asa - Dunia Wisata dan Kuliner

Dunia informasi wisata, Kuliner, Paket Tour Wisata, Resep, tips wisata, Backpacker, Wonderful Indonesia, Liburan Bersama Keluarga

Eksotisme Pulau Sentani Papua yang Mendunia

Angin pegunungan Cycloops yang sejuk berpadu mesra dengan pemandangan Danau Sentani yang indah. Masyarakat yang tinggal di perkampungan rumah apung yang unik itu tampak hidup dengan damai hingga beberapa generasi. Kisah dan semangat kehidupan Danau Sentani ini tergambar jelas dalam lukisan-lukisan kulit kayu mereka.

Papua memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Eksotisme pulau itu seolah-olah memanggil untuk dijelajahi. Iya, itulah yang akan kita rasakan saat menginjakkan kaki di Jayapura tanah Papua. Keindahan Danau Sentani dengan pulau-pulau kecil yang terlihat dari atas pesawat saat kita mengunjungi wilayah paling timur Indonesia ini seakan-akan menghipnotis kita untuk menjelajahinya. Lanskap danau dengan gugusan pulau di tengahnya merupakan salah satu yang terindah di Indonesia.

Dari Abepura, Jayapura, kita membutuhkan jarak sekitar 25 km untuk menuju Danau Sentani, yang terletak di Kabupaten Jayapura, Papua dan merupakan danau vulkanik yang berada di lereng pegunungan cagar alam Cycloops dan memiliki luas sekitar 250.000 hektar. Luas Danau Sentani sendiri sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 meter dari permukaan laut. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Danau terbesar di Papua ini pun sangat mudah dijangkau karena hanya berjarak 50 km dari Kota Jayapura.

Wisata Alam Danau Toba Samosir - Tanahnya Orang Batak


Danau Sentani di pesisir utara Papua kira-kira sebesar Jawa Timur yang juga masih berada di Indonesia. Meliputi hampir 10.000 hektar, permukaan danau yang tenang dihiasi dengan 22 pulau dan bergelombang yang dihasilkan dari dampak vulkanisme yang menciptakan danau tersebut.

Danau terbesar di Papua ini berada di lereng pegunungan cagar alam Cycloops yang kaya akan warisan budaya masyarakat Sentani yang luar biasa.

Pemandangan Danau Sentani sangat indah saat matahari terbit dan saat matahari terbenam, jadi jika mengunjungi tempat ini, jangan sampai melewatkan kedua momen tersebut.

Jalan menuju Danau Sentani yang berkelok-kelok di antara bukit-bukit berbatu, membutuhkan waktu 30 menit berkendara dari Abepura untuk sampai dilokasi ini. Saat memasuki kawasan ini akan mulai tampaklah rimbunan pohon sagu yang memenuhi pinggiran danau.

Disini ada pemandu yang juga penyewa "Ketinting" yakni perahu kayu dengan motor, yang akan mengantarkan kita menjelajahi keindahan alam dan budaya Danau Sentani, pemandu yang ramah sebagaimana karakter bangsa kita yang ramah dan murah senyum. “Onomi Fokha" dalam bahasa papua yang artinya "Selamat Datang".



Kampung Komba, Sentani Tengah.

Habiskan waktu fajar anda Kampung Komba, Sentani Tengah ini, dengan kehidupan masyarakatnya yang yang damai , sambil menyambut semburat cahaya emas yang mulai tampak di balik bukit, menandakan fajar akan segera menyingsing.

Semburat oranye mulai menggantikan langit biru tua, bulan yang tadinya bertengger di sana semalaman pun mulai tersingkir, menandakan tugasnya untuk menyinari malam telah selesai untuk hari itu.

Seketika itu pula, kita akahn melihat kehidupan di Danau Sentani yang nampak mulai menggeliat. Riak air danau yang lembut seakan menyambut pagi dengan berseri. "Kole-kole" atau perahu kecil tanpa motor dan "Ketinting" / perahu kayu dengan motor mulai meramaikan kehidupan pagi yang cerah. Dan kehidupan Kampung Komba pun mulai bergeliat.

Kita akan menyaksikan banyak anak-anak kampung yang bergegas menaiki perahu dan mendayung nya menuju sekolah-sekolah mereka yang berada di seberang danau. Perahu kayu tanpa mesin motor yang mereka naiki itu disebut kole-kole. Bentuknya lonjong dengan sudut lancip di bagian depan dan belakang perahu.

Kaum ibu-ibu pun mulai meramaikan pagi dengan mencari ikan nila dan gabus di sekitar perkampungan mereka. Mereka mendayung kole-kolenya ke segala arah, melempar jaring untuk menangkap ikan dan membawa hasil tangkapannya ke rumah untuk dibersihkan dan langsung dibawa ke pasar.



Di danau ini terdapat berbagai spesies ikan air tawar khas Papua, seperti ikan Pelangi Sentani, ikan gabus Danau Sentani, ikan Pelangi Merah dan yang paling unik adalah ikan hiu gergaji yang sangat langka. Danau Sentani ini juga dijadikan lokasi untuk menyelam, memancing, dan ski air.

Dari Kampung Komba, kita bisa pergi mengelilingi danau serta mengunjungi desa-desa disekitar Danau Sentani. Karena disekitaran danau ini terdapat 24 kampung yang tersebar di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di tengah danau. Danau ini juga punya 21 buah pulau kecil yang tersebar di perairannya.

Menariknya lagi, kendati terpisah oleh luasnya perairan dan bentangan pulau, tapi mereka hidup dalam damai dan dapat beradaptasi dengan kontur alam danau yang sangat unik dan cantik ini. Kecantikan alam Danau Sentani memang memukau. Belum lagi bila kita mengamati adat-istiadat, kesenian dan budayanya yang unik.

Lukisan Kulit Kayu Pulau Asei - Warisan Masa Lampau

Kita bisa menyewa Ketinting atau Perahu kayu bermotor untuk berkeliling mengunjungi penduduk-penduduk lokal di rumah-rumah panggung mereka. Kita akan menyaksikan bagaimana masyarakat Danau Sentani begitu kreatif, yang konon katanya hasil kerajinan tangan mereka adalah yang terbaik di Papua. Karena itu, kita harus melihat langsung pembuatan lukisan kulit kayu yang telah mendunia tersebut.

Orang-orang Asei dikenal dengan lukisan barkcloth mereka yang terkenal di seluruh dunia. Barkcloth dicat dengan banyak pola mitologis, simbol kekerabatan, kesucian kematian, dan aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Sentani.

Kegiatan Wisata di Danau Sentani:

  • Monumen MacArthur
Monumen MacArthur terletak di Gunung Ifar, yang kemudian dikenal dengan Bukit Makatur. Lokasi tersebut dahulunya adalah markas besar pasukan sekutu untuk kawasan pasifik barat daya.

  • Papeda - Menu Tradisional Masyarakat Sentani

Papeda terbuat dari sagu dan dimasak menjadi bubur. Papeda paling cocok dipadukan dengan ikan berkuah. Papeda yang kenyal dan kombinasi asam serta gurihnya ikan gabus kuah kuning serasa melebur di lidah dan memberikan sensasi rasa yang sangat enak.

  • Tifa - Alat Musik Tradisional Papua

Alat musik tradisional Papua ini mirip seperti gendang yang panjang dan ramping. Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya. Namun biasanya tifa digunakan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang.

  • Cendrawasih - Burung dari Surga

Cendrawasih yang sering disebut juga burung dari surga ini merupakan burung yang paling eksotis di dunia. Keunikan burung ini tak hanya terletak pada bulunya yang indah memikat, namun juga pada saat mereka menari untuk mencari pasangan. Fotografer Tim Laman dan ornitholigist dari Ed Scholes memerlukan waktu sembilan tahun, 18 ekspedisi, dan 39.000 foto untuk mendokumentasikan semua spesies burung legendaris ini pada buku ‘Birds of Paradise’.



Kampung Asei yang berlokasi di pulau tengah Danau Sentani dan yang terkenal sebagai ahli pembuat baju dan lukisan kulit kayu dengan berbagai macam corak destinasi wajib untuk dikunjungi. Kita bisa mengunjungi rumah Nomensen Ongge, yang merupakan pemimpin adat atau Ondoafi masyarakat Pulau Asei.

Dirumah Ondoafi atau pimpinan adat ini, kita akan dibuat terkagum-kagum dengan banyaknya lukisan kay yang terhampar diteras belakang rumah apung Nomensen Ongge. Lukisan-lukisan indah itu digambar di atas lembaran kulit kayu khombouw atau yang disebut malo. Melukis dilapisan kulit kayu ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang yang dilakukan masyarakat Pulau Asei dalam mengisi waktu senggang mereka.

Tradisi masyarakat Asei yang sudah ada sejak tahun 1600-an yang mana dulunya berfungi sebagai pakaian. Lukisan dan pakaian yang dibuat pun melambangkan status sosial masyarakat setempat, seperti untuk raja dan para pejabat nya, pakaian dari kulit kayunya diberi lukisan tertentu, seperti burung Cendrawasih.

Sampai tahun 1980-an, kulit kayu khombouw hanya digunakan sebagai pakaian atau dalam bahasa setempat disebut daka homo, celana untuk kaum pria atau "cidakocidako", pembungkus jenazah dan alas penaruh kapak batu dalam perundingan dan alas penaruh kapak batu dalam perundingan mas kawin. Namun saat ini, lukisan-lukisan kulit kayu dibuat hanya untuk cinderamata saja.

Motif lukisan kulit kayu itu pasti mempunyai arti dan merupakan representasi dari aktivitas maupun kepercayaan masyarakat setempat. Lukisannya bisa menggambarkan mitologi, lambang kekerabatan, marga, nilai suci kematian, kematian, keseharian warga Sentani atau lambang kepercayaan tentang semesta.

Kini malo bisa didapatkan di Pasar Hamadi di Jayapura, tetapi karya yang paling berharga hanya terdapat di Danau Sentani. Seiring datangnya senja, danau pun berubah warna menjadi merah jambu, merah terang dan oranye, sementara kole-kole dan ketinting pun telah ditambatkan, dan suara kicau burung dan binatang di siang hari telah berganti dengan malam. Dan suasana ini merupakan inspirasi aktivitas maupun kepercayaan masyarakat di sini.